Feeds:
Pos
Komentar

2016

2016 akan berakhir dalam hitungan jam, and let me tell you how I feel about it.

Saya termasuk orang yang selalu semangat menanti datangnya tahun yang baru. Resolusi baru, semangat baru serta rasa penasaran atas apa yang akan kita alami selama setahun ke depan. But, I’ve never been more excited than now.

2016 bukanlah tahun terbaik dalam hidup saya. Might as well call it the worst year of my life. Terlalu banyak kejadian kurang baik (dan sangat buruk) yang terjadi tahun ini. Sesederhana sering nabrak tembok rumah yang bertahun-tahun ada disitu, keseleo berkali-kali dalam seminggu, hampir diculik tukang ojek sampai menjadi korban penipuan. The worst of ’em all: Dad’s health condition.

Saya memang termasuk orang yang sensitif, terharu sedikit gampang menitikan air mata (alias cengeng), tapi kayaknya saya belum pernah menangis sebanyak saya menangis di tahun 2016. Luar biasa yahhh hehe. Itulah kenapa saya selalu menjalani hari-hari di tahun 2016 hanya dengan harapan 2017 akan segera datang.

Saya sempat bertanya-tanya, apa yang bisa menutupi semua kejadian buruk di tahun 2016?

Jawaban atas pertanyaan itu, sudah saya temukan beberapa hari yang lalu, setelah mendengarkan kata-kata seorang teman yang baru saya kenal akhir tahun ini.

I said I absolutely have no luck whatsoever this year. Saya juga bilang hidup kurang menyenangkan setahun belakangan. But he calmly said, “life is happiness.” Dia tiba-tiba juga bertanya, apa yang saya pikirkan tentang perkenalan saya dengan dia, because he said that for him, it’s a luck.

I feel embarrassed to be honest.

Maka selama dua hari belakangan ini saya berpikir, bahwa betapapun banyaknya kejadian buruk yang menimpa saya tahun ini, saya juga bertemu banyak orang-orang baik dan hebat di tahun 2016. 2016 diawali dengan saya menjadi korban penipuan, namun melalui kejadian tersebut, saya bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu semangat memperjuangkan hak-hak mereka dan keluarga mereka, termasuk guru-guru saya, pak Kris dan Mr. Timothy. Sepanjang tahun 2016, saya juga bertemu dengan teman-teman dari negara Korea: Hyukjae (my korean neighbor), Hansol, Juseong Oppa, Im Eonnie, Myeongseong Uncle, Byeongcheol Uncle, termasuk the life-is-happiness man: Seokhwan Oppa. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman lama yang sempat hilang kontak.

Pada intinya sih, 2016 tetap the worst year dalam 24 tahun saya. Tapi, bukan berarti tidak ada kebahagiaan sama sekali. Karena life is happiness. 

Bye, 2016. Glad I will never see you again 🙂

NB: Semoga 2017 lebih baik lagi, aamiin.

Mari Beradaptasi

Firasat mengenai tulis-menulis selalu benar.

Tulisan pertama di 2015 dimulai tepat pada saat 2015 dimulai, tapi tulisan kedua berjarak 3 bulan setelahnya. Luar biasa sekali, kemana ya rasa suka saya kepada menulis? Setidaknya kini rekor 2014 terpecahkan, tidak hanya satu tulisan dalam satu tahun.

Di detik saya menulis, saya sedang berada di dalam ruang kelas. Suasananya gaduh sekali. Suara perbincangan terdengar dari segala penjuru kelas. Bosan. Ramai, tapi membosankan.

Tidak terasa sudah 6 semester saya kuliah, di tempat yang saya kira akan sangat membosankan dan tidak membuat saya bertahan lebih dari dua tahun. Nyatanya? Memang membosankan. Tapi rupanya saya bertahan. Saya pun takjub. Manusia memang mempunyai batas yang melebihi apa yang dipikirkannya.

Selama tiga tahun saya kuliah disini, mungkin saya lebih banyak mengeluh, namun mungkin saya juga menjadi lebih dewasa. Dewasa dengan mencoba beradaptasi, di lingkungan yang sampai saat ini tidak saya sukai. Tapi rupanya saya terus beradaptasi.

Mungkin setahun lagi saya masih harus berada disini. Mungkin kurang dari itu, mungkin juga lebih.

Biarlah saya terus beradaptasi, meskipun mungkin tidak bisa melebur seutuhnya. Karena setelah saya bebas dari lingkungan ini, masih ada dunia lain yang juga membuat saya harus beradaptasi.

NB: Kelas sudah dimulai, mari beradaptasi.

Tulisan Pertama

HOME. 00.15 WIB, 1 Januari 2015.

Saat saya menulis postingan ini, di luar rumah terdengar ramai suara petasan. Suara-suara tersebut sudah terdengar dari beberapa jam yang lalu. Dan entah kenapa saya tidak begitu menyadarinya. Ketika suara-suara tersebut semakin lama semakin ramai, saya baru melihat jam dan rupanya tahun telah berganti.

Sudah beberapa tahun belakangan saya tidak merayakan momen pergantian tahun. Mungkin itu dipengaruhi juga dengan perubahan perilaku saya, yang entah bagaimana, semakin hari semakin tidak suka keramaian. Saya lebih senang menghabiskan waktu di kamar. Membaca, mendengarkan musik, membuat scrapbook, membuat kristik, atau menonton acara tv korea kesukaan saya. Tapi ada satu yang sudah lama tidak saya lakukan, menulis.

Ketika suara ramai di luar rumah menyadarkan saya akan tibanya tahun yang baru, saya mulai memikirkan apa yang mungkin saya sesali dengan perginya 2014. Dan di saat saya mulai membuat daftarnya, salah satu yang menjadi pemikiran saya malam ini adalah, bahwa saya hanya menulis satu kali di blog ini selama tahun 2014. Bahkan rasanya saya tidak ingat apakah saya pernah menulis di jurnal harian saya, yang keberadaannya pun sudah tidak saya ketahui.

Lalu yang menjadi pemikiran saya adalah: haruskah banyak menulis menjadi resolusi saya tahun ini?

Jujur, saya bukanlah orang yang biasa membuat resolusi. Kalau kata salah satu teman saya, saya adalah salah satu orang dengan need for achievement yang rendah. Dipikir-pikir, saya tidak pernah membuat resolusi hingga saat ini. Maka biarlah sementara ini tetap seperti itu. Biarkan 2015 berjalan, dan saya pun akan berjalan.

Untuk itulah, ini tulisan pertama saya di tahun ini.

Semoga tidak menjadi tulisan terakhir di tahun ini.

HAPPY NEW YEAR – 2015

X-O-X-O

Irza Ayuputri

New Start

Seminggu belakangan ini saya kembali menyentuh blog ini. Membaca ulang semua (kata per kata, tidak ada yang sengaja dilewatkan) tulisan yang sudah diterbitkan, masih dalam konsep, ataupun yang dikategorikan privat. Beberapa tulisan sekarang terasa berbeda. Sudut pandang saya yang sekarang, berbeda dengan sudut pandang saya ketika menulis tulisan-tulisan tersebut.

Beberapa tulisan terasa cheesy. Saya sampai menghapus air mata karena beberapa tulisan berhasil membuat saya merinding-merinding hingga tertawa terlalu keras saking noraknya.

Langkah selanjutnya adalah berusaha mengubah kategori beberapa tulisan menjadi privat. Namun dari 70 tulisan yang telah diterbitkan, entah kenapa saya merasa semuanya mengandung hal yang membuat saya merinding disko.

Akhirnya, dari kebimbangan itu muncullah satu keputusan: mari mengubah semua tulisan menjadi kategori privat.

Istilah iklan jaman dulu, “mulai dari nol ya”. (#BukanSponsor #ISwear)

Bukan tidak mungkin beberapa tulisan akan saya terbitkan lagi. Tapi untuk saat ini, mari kita mulai dari nol.

NB: Semoga tulisan-tulisan selanjutnya tidak menjadi senorak yang dulu.